Bahlil Minta Pengusaha Tambang Kendalikan Produksi
Soksinews.id - Menteri Koordinator Bidang Hilirisasi dan Transisi Energi sekaligus Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, mengingatkan para pengusaha pertambangan mineral dan batu bara (minerba) agar tidak mengeksploitasi sumber daya alam secara berlebihan.
Bahlil meminta pelaku usaha dan pemerintah daerah mengedepankan tata kelola pertambangan yang baik, termasuk mengendalikan volume produksi agar tidak menyebabkan kelebihan pasokan yang berujung pada penurunan harga komoditas di pasar global.
Pesan tersebut disampaikan Bahlil dalam acara Minerba Convention & Exhibition (Convex) 2026 di JIExpo, Jakarta, Senin (2/11/2026).
"Kita harus mengelola sumber daya alam kita itu dengan cara tata kelola yang baik dan benar. Jangan kita mengelolanya seperti orang yang kelaparan, jangan orang yang baru puasa, tiba-tiba buka puasa, apa aja yang mau dimakan," ujar Bahlil.
Ia menjelaskan, eksploitasi batu bara secara berlebihan telah memberikan dampak terhadap harga komoditas tersebut di pasar internasional. Pada 2025, pasokan batu bara asal Indonesia mencapai 540 juta ton dari total perdagangan dunia sebesar 1,3 miliar ton.
Besarnya kontribusi tersebut dinilai turut memicu tekanan terhadap harga batu bara global. Akibatnya, keuntungan perusahaan pertambangan dan penerimaan negara tidak dapat diperoleh secara maksimal.
"Apa yang terjadi? Harga batu bara di 2025 pada harga yang paling rendah. Profit perusahaannya tidak terlalu banyak, pendapatan negara tidak terlalu maksimal, jorjoran kita buka lahan yang begitu besar, akhirnya barang kita dijual murah," ungkapnya.
Untuk mengatasi persoalan tersebut, pemerintah melakukan pengendalian produksi melalui pemangkasan volume dalam Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB). Kebijakan ini ditujukan untuk menjaga keseimbangan pasokan dan permintaan di pasar.
Bahlil menyebut langkah tersebut berdampak terhadap kenaikan harga batu bara. Saat ini, harga batu bara dengan kalori 6.333 telah mencapai US$154 per ton.
"Maka kemudian, intuisi saya sebagai mantan pengusaha keluar. Saya katakan kalau begitu, daripada harga diatur oleh asing, barang-barang kita 540 juta itu sama dengan 43% suplai batubara dunia dari Indonesia, saya bilang kalau begitu kita jaga di antara suplai and demand, potong RKAB. Apa yang terjadi, Bapak Ibu semua? Hari ini harga batu bara bisa mencapai US$154 dolar untuk kalori 6.333," jelasnya.
Bahlil juga menyoroti kondisi pasar nikel yang mengalami tekanan akibat kelebihan pasokan. Harga nikel tercatat berada di kisaran US$15.800 hingga di bawah US$16.000 per ton.
Menurutnya, kondisi tersebut dipengaruhi produksi yang melampaui kebutuhan pasar global. Dari total kebutuhan nikel dunia sekitar 3,5 juta ton per tahun, terjadi kelebihan pasokan hampir 800.000 ton.
"Kenapa terjadi harga yang menurun? Karena produksi kita jorjoran. Total kebutuhan kita hanya 3,5 juta per tahun di dunia. Sekarang terjadi oversupply hampir 800.000 ton. Bagaimana mungkin bisa harganya bagus? Jadi saya minta teman-teman antara industri dan pengusaha tambangnya ini kita harus bisa menahan diri," tegas Bahlil.
Lebih lanjut, ia mengingatkan bahwa sumber daya mineral dan batu bara merupakan kekayaan alam yang tidak dapat diperbarui. Karena itu, pengelolaannya harus mempertimbangkan kepentingan generasi mendatang, bukan hanya keuntungan ekonomi jangka pendek.
Bahlil meminta para pelaku usaha tidak memaksakan produksi ketika kondisi pasar belum memberikan nilai ekonomi yang optimal. Menurutnya, cadangan mineral dan batu bara perlu dijaga agar dapat memberikan manfaat lebih besar bagi generasi berikutnya.
"Mengelola sumber daya alam kita jangan kita anggap negara ini hanya punya kita. Negara ini masih ada anak cucu kita. Kalau memang hari ini barangnya belum mahal, barangnya belum bagus, tinggalkan, nanti ada Menteri ESDM baru, ada dirjen baru, ada presiden baru, ada pengusaha baru untuk anak cucu kita untuk kelak mereka mendapatkan harga yang maksimal," tandasnya.
