Rabu, 04 Nov 2026 NasionalDaerahEkonomiParlemenKata Soksi
Breaking
Beranda › Nasional
Nasional

Meutya Hafid Ajak Anak Muda Indonesia Jadi Pencipta Teknologi AI

✍️ Amun 🕒 03 Nov 2026
Menkomdigi Meutya Hafid
Menkomdigi Meutya Hafid Foto: Istimewa

Soksinews.id - Menteri Komunikasi dan Digital (Menkomdigi) Meutya Hafid mengajak generasi muda Indonesia mengambil peran lebih besar dalam menentukan arah pengembangan dan pemanfaatan kecerdasan artifisial atau Artificial Intelligence (AI).

Generasi muda diharapkan tidak hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi juga mampu menciptakan inovasi dan solusi yang memberikan manfaat bagi masyarakat.

Pesan tersebut disampaikan Meutya saat menghadiri Indonesia Youth Summit 2026 di Jakarta. Menurutnya, generasi muda memiliki posisi strategis dalam menentukan masa depan transformasi digital Indonesia, terutama dalam menghadapi perkembangan teknologi AI yang semakin pesat.

Meutya menilai, penguasaan teknologi harus diimbangi dengan kepemimpinan digital yang kuat. Hal ini mencakup kemampuan berpikir kritis, keberanian menciptakan inovasi, serta tanggung jawab dalam menggunakan teknologi.

Ia mengingatkan bahwa Indonesia memiliki waktu sekitar 20 tahun menuju target Indonesia Emas 2045. Karena itu, generasi muda perlu menentukan posisi Indonesia dalam perkembangan teknologi global, apakah hanya menjadi pasar pengguna atau turut berkontribusi sebagai pencipta teknologi.

"Dalam 20 tahun menuju Indonesia Emas 2045, kita juga perlu bertanya, apakah Indonesia akan menjadi bangsa pengguna teknologi yang diciptakan oleh bangsa lain, atau kita ingin bergerak menjadi bangsa yang ikut menciptakan teknologi, pengetahuan, dan juga solusi bagi dunia," kata Meutya dalam keterangan resminya, dikutip di Jakarta, Selasa (3/11/2026).

Dalam kesempatan tersebut, Meutya juga menyoroti besarnya potensi Indonesia dalam pengembangan ekonomi digital. Dengan jumlah pengguna internet yang mencapai sekitar 260 juta orang, Indonesia memiliki pasar digital yang besar dan menjadi salah satu kekuatan ekonomi digital di kawasan Asia Tenggara.

Ia menyebut Indonesia berkontribusi sekitar 30 persen terhadap ekonomi digital ASEAN. Potensi tersebut perlu dimanfaatkan untuk memperkuat inovasi, meningkatkan produktivitas, serta mendorong pengembangan teknologi berbasis kebutuhan masyarakat.

Meski demikian, Meutya menegaskan bahwa transformasi digital tidak boleh hanya berorientasi pada pertumbuhan ekonomi. Pemanfaatan AI juga harus memperhatikan aspek perlindungan masyarakat, khususnya anak-anak dan generasi muda dari berbagai risiko di ruang digital.

Menurutnya, perkembangan teknologi harus tetap berjalan seiring dengan perlindungan nilai-nilai kemanusiaan. Ia mengingatkan bahwa pertumbuhan ekonomi digital tidak akan berarti apabila masyarakat, terutama anak-anak, justru terpapar konten negatif dan berbagai bentuk kejahatan digital.

"Tidak ada pertumbuhan ekonomi setinggi apa pun yang layak dikejar kalau nilai-nilai kemanusiaan kita menjadi hilang, diterabas oleh mesin-mesin. Kalau pertumbuhan ekonominya tercapai 360 juta dolar di 2030, tapi anak-anaknya tidak terjaga, anak-anaknya terpapar pornografi, anak-anaknya terpapar judi online, bangsa malah terpecah belah, itu juga tidak layak," ujar Meutya.

Karena itu, ia mendorong pengembangan AI di Indonesia dilakukan secara bertanggung jawab dengan tetap mengedepankan kepentingan masyarakat. Perlindungan anak, keamanan ruang digital, dan penguatan literasi teknologi menjadi bagian penting dalam proses transformasi digital nasional.

A
AmunPenulis
MK
Melly KartikaEditor
💬

Diskusi

Bagikan pendapat Anda
0 komentar

Lengkapi data kamu

Sekali isi untuk bisa berkomentar.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Artikel Terkait

News Update

iklan