Mendukbangga Wihaji Minta Petugas Lapangan Perkuat Edukasi Risiko Stunting
Soksinews.id - Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Mendukbangga)/Kepala BKKBN Wihaji menginstruksikan tim pendamping keluarga (TPK) untuk meningkatkan edukasi mengenai pencegahan dan penanganan stunting di tingkat lapangan secara berkelanjutan. Penjelasan tersebut disampaikan Wihaji dalam acara Gerakan Orang Tua Cegah Stunting (Genting) Collaboration Summit di Jakarta, Kamis (5/11/2026).
Wihaji menyoroti masih banyaknya keluarga risiko stunting yang enggan memeriksakan anak ke posyandu akibat khawatir menerima perlakuan stigma negatif dari lingkungan masyarakat sekitar. Pemerintah memfokuskan upaya pencegahan sejak awal kehamilan dan balita melalui pendampingan pola asuh sehat, penyediaan air bersih, penanganan penikahan dini, hingga partisipasi program orang tua asuh yang hingga Oktober 2026 telah menjangkau 1,3 juta keluarga berisiko di Indonesia.
"Ada yang malu kalau dikatakan keluarga risiko stunting. Ada juga yang tidak mau membawa anaknya ke posyandu karena nanti dipersepsikan sebagai keluarga risiko stunting. Ini perlu edukasi," katanya dalam Gerakan Orang Tua Cegah Stunting (Genting) Collaboration Summit di Jakarta, Kamis, 5 November 2026, dikutip dari Antara.
Pemerintah menekankan bahwa intervensi sebelum anak mengalami hambatan pertumbuhan jauh lebih efektif dibandingkan pengobatan lanjutan yang memiliki ruang pemulihan terbatas.
Pemahaman dan komitmen pemerintah daerah dipandang perlu terus diselaraskan agar penetapan prioritas penanganan keluarga risiko stunting berjalan berkesinambungan.
Pendampingan lapangan difokuskan pada penguatan pemahaman kesehatan masyarakat, penataan sanitasi lingkungan, serta perubahan pola hidup keluarga.
"Yang terakhir adalah membangun, meyakinkan, dan mengedukasi. Ini tantangan yang harus dihadapi para petugas di lini lapangan," ucap Wihaji.
