Jumat, 30 Okt 2026 NasionalDaerahEkonomiParlemenKata Soksi
Breaking
Beranda › Daerah
Daerah

Wihaji Tugaskan TPK Indramayu Bantu Distribusi MBG untuk Ibu Hamil, Ibu Menyusui dan Balita

✍️ Amun 🕒 18 Sep 2026
Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Mendukbangga) sekaligus Kepala BKKBN Wihaji
Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Mendukbangga) sekaligus Kepala BKKBN Wihaji Foto: Istimewa

Wihaji meminta lebih dari 1.000 Tim Pendamping Keluarga (TPK) se-Kabupaten Indramayu, Jawa Barat, memperkuat peran dalam pendampingan keluarga.

 Soksinews.id – Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Mendukbangga) sekaligus Kepala BKKBN Wihaji meminta lebih dari 1.000 Tim Pendamping Keluarga (TPK) se-Kabupaten Indramayu, Jawa Barat, memperkuat peran dalam pendampingan keluarga.

Selain tugas pendampingan, para kader TPK kini turut dilibatkan dalam distribusi Makan Bergizi Gratis (MBG) untuk kelompok 3B, yakni ibu hamil, ibu menyusui, dan balita.

Arahan tersebut disampaikan Wihaji saat bertemu ribuan kader TPK di Gedung Dakwah, Kecamatan Karangampel, Kabupaten Indramayu, Kamis (17/9/2026).

Wihaji mengatakan pelibatan TPK dalam distribusi MBG merupakan bagian dari arahan Presiden Prabowo Subianto agar jajaran pemerintah lebih banyak turun langsung ke lapangan untuk menyelesaikan persoalan masyarakat.

“Saya sebagai pembantu presiden, diperintah oleh beliau, jangan banyak diskusi, jangan banyak seminar, terjun ke lapangan, selesaikan masalah,” kata Wihaji.

Ia menyebut distribusi MBG untuk kelompok 3B di Indramayu telah berjalan di sebagian besar titik penyaluran. Adapun titik yang belum berjalan akan segera ditindaklanjuti bersama Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) setempat.

Angka Stunting Indramayu 9,8 Persen

Dalam kesempatan tersebut, Wihaji juga memaparkan kondisi stunting di Kabupaten Indramayu.

Ia menyebut prevalensi stunting di Indramayu berada di angka 9,8 persen, sedangkan angka nasional mencapai 19,8 persen.

Meski capaian tersebut berada di bawah angka nasional, Wihaji mengingatkan para kader agar tidak mengendurkan pendampingan keluarga.

Ia menyoroti pernikahan usia dini sebagai salah satu faktor yang perlu mendapatkan perhatian dalam upaya pencegahan stunting.

“Kalau di Indramayu cuma 9,8 persen. Berarti kalau ada 10 balita, stuntingnya cuma satu,” ujarnya.

Menurut Wihaji, angka tersebut tetap perlu dilihat berdasarkan jumlah keseluruhan balita di Kabupaten Indramayu sehingga kader dapat memahami besarnya jumlah anak yang masih berisiko.

TPK Diminta Dampingi Keluarga Sepanjang Siklus Kehidupan

Wihaji menjelaskan pendampingan TPK mencakup berbagai kelompok dalam siklus kehidupan keluarga.

Kelompok tersebut meliputi calon pengantin, ibu hamil, ibu menyusui, anak di bawah dua tahun (baduta), balita, remaja, hingga lanjut usia.

Bagi calon pengantin, pendampingan diarahkan untuk memastikan pasangan memasuki usia pernikahan yang ideal. Wihaji menyebut usia ideal pernikahan minimal 21 tahun untuk perempuan dan 25 tahun untuk laki-laki.

“Salah satu sebab stunting adalah pernikahan,” ujarnya.

Sementara bagi baduta, Wihaji menekankan pentingnya pendampingan karena periode tersebut termasuk dalam 1.000 Hari Pertama Kehidupan.

Menurutnya, penanganan sejak dini menjadi penting karena peluang pemulihan anak yang mengalami stunting setelah berusia dua tahun disebut lebih kecil.

“Kalau sudah dua tahun tidak stunting, ke sananya tidak akan stunting. Tetapi kalau di usia dua tahun kena stunting, yang bisa disembuhkan cuma 20 persen,” katanya.

Penggunaan Gawai Remaja Jadi Perhatian

Persoalan lain yang menjadi perhatian Wihaji adalah pola penggunaan gawai di kalangan remaja.

Ia menyebut anak-anak saat ini dapat menghabiskan waktu hingga delapan jam sehari dengan telepon genggam. Kondisi tersebut, menurutnya, perlu menjadi perhatian karena waktu komunikasi antara orangtua dan anak justru jauh lebih singkat.

“Anak-anak kita setiap hari pegang telepon genggam minimal delapan jam. Ibu ngobrol sama anak paling sepuluh menit,” ujarnya.

Karena itu, Wihaji mengingatkan pentingnya menjaga komunikasi dalam keluarga, termasuk hubungan antara orangtua dan anak maupun komunikasi dengan pasangan.

Wihaji Dorong Program Sekolah Lansia

Selain kelompok anak dan remaja, perhatian juga diberikan kepada masyarakat lanjut usia.

Wihaji menyebut proporsi lansia di Kabupaten Indramayu mencapai 11,9 persen dari total penduduk. Ia mengatakan kondisi tersebut perlu diantisipasi, termasuk risiko kesepian yang dapat dialami lansia ketika anak-anak mereka bekerja di luar daerah.

Untuk itu, Wihaji meminta jajaran dinas terkait segera merealisasikan program Sekolah Lansia.

Program tersebut dapat diisi dengan berbagai kegiatan sosial, termasuk pengajian dan kunjungan wisata religi. Kegiatan tersebut diharapkan dapat menjaga aktivitas sosial para lansia sekaligus memperkuat interaksi mereka di tengah masyarakat.

A
AmunPenulis
AM
Arief MunandarEditor
💬

Diskusi

Bagikan pendapat Anda
0 komentar

Lengkapi data kamu

Sekali isi untuk bisa berkomentar.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Artikel Terkait

News Update

iklan