Jumat, 30 Okt 2026 NasionalDaerahEkonomiParlemenKata Soksi
Breaking
Beranda › Nasional
Nasional

Wihaji Perkuat Pendampingan Keluarga Berisiko Stunting, Bantuan Rumah Layak Disalurkan

✍️ Amun 🕒 01 Oct 2026
Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Mendukbangga)/Kepala BKKBN Wihaji
Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Mendukbangga)/Kepala BKKBN Wihaji Foto: Istimewa

Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Kemendukbangga)/Kepala BKKBN Wihaji menegaskan komitmen pemerintah untuk memperkuat pendampingan bagi keluarga yang masuk kategori berisiko stunting.

Soksinews.id — Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Kemendukbangga)/Kepala BKKBN Wihaji menegaskan komitmen pemerintah untuk memperkuat pendampingan bagi keluarga yang masuk kategori berisiko stunting.

Pendampingan tersebut diarahkan tidak hanya pada tumbuh kembang anak, tetapi juga pemenuhan kebutuhan dasar keluarga. Upaya tersebut dilakukan melalui kerja sama pemerintah dengan berbagai pihak.

Hal itu disampaikan Wihaji saat meninjau kondisi dua keluarga berisiko stunting di Kabupaten Bandung Barat, Rabu (30/9/2026).

”Intinya adalah menyelamatkan satu orang sama dengan menyelamatkan satu generasi,” tegas Menteri Wihaji.

Kondisi Keluarga Jadi Perhatian

Dalam kunjungan tersebut, Wihaji menemukan sejumlah persoalan yang dihadapi keluarga berisiko stunting, terutama berkaitan dengan kondisi tempat tinggal, air bersih, sanitasi, dan kebutuhan dasar.

Salah satu keluarga yang dikunjungi memiliki sembilan anak dan tinggal bersama 13 anggota keluarga dalam satu rumah. Kondisi hunian tersebut dinilai belum layak, sementara akses menuju rumah masih berupa jalan tanah yang terjal.

Keluarga tersebut juga menghadapi keterbatasan akses air bersih dan fasilitas sanitasi.

Kondisi serupa ditemukan pada keluarga lainnya yang memiliki lima anak. Keluarga tersebut juga belum memiliki akses air bersih dan jamban yang layak.

Kemendukbangga Gandeng BRI

Merespons kondisi tersebut, Kemendukbangga/BKKBN bekerja sama dengan Bank Rakyat Indonesia (BRI) memberikan bantuan langsung kepada kedua keluarga.

Bantuan tersebut berupa pembangunan rumah layak huni dengan nilai masing-masing Rp50 juta.

Selain tempat tinggal, dukungan juga diberikan untuk membantu pemenuhan kebutuhan pangan keluarga. Bantuan berupa 10 ekor ayam hidup diberikan agar keluarga dapat memenuhi kebutuhan telur secara mandiri.

Kedua keluarga tersebut juga menerima bantuan sembako untuk mendukung kebutuhan nutrisi sehari-hari.

Wihaji mengatakan persoalan yang ditemukan di lapangan menunjukkan bahwa penanganan keluarga berisiko stunting perlu dilakukan secara menyeluruh dan menyentuh kebutuhan dasar keluarga.

Berdasarkan Pendataan Keluarga (PK) 2025, terdapat sekitar 8,6 juta keluarga berisiko stunting di Indonesia.

Perlu Kolaborasi Lintas Sektor

Untuk memperluas dukungan bagi keluarga berisiko stunting, pemerintah terus mendorong Gerakan Orang Tua Asuh Cegah Stunting (GENTING).

Program tersebut melibatkan berbagai pihak sehingga pendampingan tidak hanya mengandalkan pemerintah.

“Tidak bisa sendirian, kita juga kerja sama dengan stakeholder terkait termasuk BRI dan ada juga orang tua asuh yang lain,” ujar Menteri Wihaji.

Wihaji menegaskan intervensi terhadap keluarga berisiko stunting tidak berhenti pada pembangunan rumah layak huni.

Pemenuhan kebutuhan nutrisi dan keberlanjutan pendidikan anak juga menjadi bagian dari perhatian pemerintah.

“Walaupun MBG (Makanan Bergizi Gratis) belum sampai sini, nanti kita tetap akan turun tangan, kita punya Gerakan Orang Tua Asuh Cegah Stunting. Yang bentuknya nanti nutrisi. Insya Allah kita bantuin,” pungkas Menteri Wihaji.

A
AmunPenulis
💬

Diskusi

Bagikan pendapat Anda
0 komentar

Lengkapi data kamu

Sekali isi untuk bisa berkomentar.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Artikel Terkait

News Update

iklan