Wihaji: Perbaikan Bangsa Dimulai dari Keluarga
Soksinews.id - Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) memperkuat kesiapan generasi muda dalam membangun keluarga berkualitas melalui program Akademi Keluarga Indonesia.
Program ini dirancang untuk membekali remaja dengan pendidikan karakter, keterampilan hidup, literasi digital, serta pemahaman mengenai kependudukan dan kehidupan berkeluarga.
Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/Kepala BKKBN, Wihaji, mengatakan program tersebut dilatarbelakangi besarnya jumlah generasi muda yang akan menjadi penerus pembangunan bangsa. Menurutnya, keluarga merupakan unit terkecil dalam masyarakat yang berperan penting dalam menentukan kualitas sumber daya manusia Indonesia.
“Kalau mau memperbaiki negara, perbaiki keluarga,” ujar Wihaji dalam Pertemuan Nasional Puncak Pembinaan Akademi Keluarga Indonesia di Kantor Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/BKKBN, Jakarta, Rabu (28/10/2026).
Wihaji menjelaskan, Indonesia memiliki sekitar 284 juta penduduk dan 66 juta keluarga. Sementara itu, generasi Z dan milenial mencakup sekitar 49 persen dari total penduduk. Besarnya proporsi generasi muda tersebut perlu diimbangi dengan pembekalan yang memadai agar mereka mampu menghadapi tantangan kehidupan dan berkontribusi dalam pembangunan nasional.
Ia menilai perkembangan teknologi telah membawa perubahan besar terhadap pola pikir dan perilaku masyarakat, terutama di kalangan remaja. Penggunaan gawai secara berlebihan serta pengaruh algoritma digital menjadi tantangan yang perlu diantisipasi melalui edukasi dan pendampingan.
“Generasi muda kita harus memahami berbagai hal yang berkenaan dengan masa depan. Tantangannya semakin kompleks, mulai dari gadget hingga pengaruh algoritma terhadap pikiran dan perilaku,” ujarnya.
Menurut Wihaji, pembangunan manusia membutuhkan proses panjang dan keterlibatan berbagai pihak. Karena itu, penguatan keluarga perlu dilakukan secara berkelanjutan melalui kolaborasi pemerintah, lembaga pendidikan, keluarga, dan masyarakat.
Ia berharap peserta Akademi Keluarga Indonesia dapat menjadi agen perubahan di lingkungan masing-masing dengan menyebarkan pengetahuan serta perilaku positif kepada teman sebaya. Program tersebut juga diharapkan dapat diperluas hingga tingkat kecamatan di seluruh Indonesia.
“Harapannya, anak-anak ini akan menularkan virus kebaikan kepada anak-anak yang lain. Ini yang akan kita kerjakan di seluruh Indonesia,” katanya.
Kepala Pusat Pengembangan Sumber Daya Manusia dan Kependudukan, Pembangunan Keluarga, dan Keluarga Berencana, Aan Ari Witoko, menjelaskan bahwa Akademi Keluarga Indonesia dikembangkan untuk mempersiapkan generasi muda berkualitas melalui empat pilar utama. Keempatnya meliputi karakter dan kesiapan berkeluarga, ekologi kependudukan, literasi dan etika digital, serta optimalisasi bonus demografi.
Pada pelaksanaan tahun kedua, kegiatan ini diikuti 201 peserta yang terdiri atas 134 siswa dan siswi serta 67 kepala sekolah jenjang SMA, SMK, dan MA dari berbagai provinsi di Indonesia. Peserta dipilih melalui sejumlah tahapan evaluasi, termasuk berdasarkan prestasi akademik dan capaian pembelajaran dalam program Akademi Keluarga Indonesia.
Aan mengatakan, kegiatan tersebut diharapkan dapat meningkatkan pemahaman siswa dan guru mengenai kependudukan, pembangunan keluarga, pendidikan karakter, serta nilai dan norma dalam keluarga.
Akademi Keluarga Indonesia merupakan hasil integrasi sejumlah program yang sebelumnya berjalan secara terpisah, yakni Pusat Informasi dan Konseling Remaja (PIK-R), Sekolah Siaga Kependudukan, dan Generasi Berencana (Genre). Melalui integrasi tersebut, BKKBN mengembangkan modul pembelajaran keluarga secara bertahap, mulai dari pengetahuan dasar bagi remaja hingga pemahaman mengenai berbagai tahapan kehidupan berkeluarga.
Sementara itu, Deputi Bidang Koordinasi Peningkatan Kualitas Keluarga dan Kependudukan Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Kemenko PMK), Woro Srihastuti Sulistyaningrum, menilai Akademi Keluarga Indonesia menjadi langkah penting untuk mempersiapkan remaja menghadapi tahapan kehidupan berikutnya.
Menurut Woro, pendidikan keluarga tidak cukup hanya mengandalkan pengetahuan yang diperoleh di sekolah. Remaja juga membutuhkan keterampilan hidup atau life skills, terutama dalam membangun hubungan yang sehat, memahami kesehatan reproduksi, dan mempersiapkan diri memasuki kehidupan berkeluarga.
“Kalau kita bicara membangun keluarga, ini kan tidak pernah ada sekolahnya. Dengan Akademi Keluarga, kita memberikan semacam pembekalan, tidak lagi hanya bersifat kognitif yang sebenarnya sudah didapatkan di sekolah-sekolah, tetapi sebanyak mungkin memberikan life skills,” ujar Woro.
Ia menilai pembekalan tersebut semakin penting di tengah tantangan pembangunan keluarga, termasuk kecenderungan menurunnya angka pernikahan dan meningkatnya perceraian. Persiapan yang memadai diperlukan agar calon pasangan memiliki kemampuan membangun hubungan yang sehat dan mempertahankan keharmonisan keluarga.
Edukasi kesehatan reproduksi juga menjadi bagian penting dalam pembekalan remaja. Pemahaman mengenai kesiapan fisik, mental, dan sosial sebelum menikah diharapkan dapat mendukung upaya pencegahan perkawinan anak serta mendorong terbentuknya keluarga berkualitas.
Selain itu, Woro menekankan pentingnya mempersiapkan remaja memasuki usia produktif dan berpartisipasi dalam kegiatan ekonomi. Dengan demikian, pendidikan keluarga tidak hanya berfokus pada kehidupan rumah tangga, tetapi juga membangun kemampuan individu menjalani berbagai tahapan kehidupan secara bertanggung jawab.
Untuk memastikan efektivitas program, Woro mendorong sinergi Akademi Keluarga Indonesia dengan program kementerian dan lembaga lain. Salah satunya melalui penyelarasan dengan bimbingan perkawinan bagi calon pengantin yang diselenggarakan Kementerian Agama.
Menurutnya, pembekalan sejak usia remaja perlu dilanjutkan dengan pendidikan dan pendampingan ketika peserta memasuki tahapan kehidupan berikutnya. Koordinasi lintas kementerian juga diperlukan agar materi yang diberikan tidak tumpang tindih dan dapat saling melengkapi.
“Ini harus berkesinambungan. Materi yang nanti ada di sini jangan sampai tumpang tindih. Kami di Kemenko PMK akan memastikan sinerginya, supaya seperti conveyor belt, jadi ban berjalan. Kalau tahap ini sudah selesai, kemudian masuk ke tahapan berikutnya dan seterusnya,” jelasnya.
