Jumat, 30 Okt 2026 NasionalDaerahEkonomiParlemenKata Soksi
Breaking
Beranda › Nasional
Nasional

Wihaji Apresiasi Peran Genre Bantu Trauma Healing Korban Bencana

✍️ Amun 🕒 22 Sep 2026
Mendukbangga Wihaji Soroti Ketimpangan Angka Fertilitas Antarwilayah Di Indonesia
Mendukbangga Wihaji Soroti Ketimpangan Angka Fertilitas Antarwilayah Di Indonesia Foto: Istimewa

Peran generasi muda dalam penanganan dampak bencana mendapat apresiasi dari Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Mendukbangga)/Kepala BKKBN Wihaji.

Soksinews.id – Peran generasi muda dalam penanganan dampak bencana mendapat apresiasi dari Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Mendukbangga)/Kepala BKKBN Wihaji.

Menurut Wihaji, para anggota Generasi Berencana (Genre) tidak hanya menjalankan program yang berkaitan dengan pembinaan remaja, tetapi juga terlibat langsung dalam membantu pemulihan psikologis masyarakat di wilayah yang terdampak bencana.

Hal tersebut disampaikan Wihaji dalam puncak Apresiasi Duta dan Jambore Ajang Kreativitas Genre Nasional (Adujaknas) 2026 di Kantor Kemendukbangga/BKKBN, Jakarta, Selasa.

"Di luar program-program kementerian, mereka paling depan untuk program yang berkenaan dengan remaja, contohnya Pusat Informasi dan Konseling Remaja (PIK-R), kalau ada bencana, anak-anak remaja inilah yang paling depan untuk memberikan trauma healing, karena mereka punya pengalaman untuk memberikan beberapa materi tentang trauma healing yang didampingi para psikolog," katanya dalam puncak Apresiasi Duta dan Jambore Ajang Kreativitas Genre Nasional (Adujaknas) 2026 di Kantor Kemendukbangga/BKKBN, Jakarta, Selasa.

Duta Genre Melewati Seleksi Ketat

Wihaji mengatakan keberadaan Duta Genre merupakan bagian dari upaya membangun figur teladan bagi generasi muda di berbagai daerah.

Para peserta yang mengikuti ajang tersebut telah melewati proses seleksi sebelum mewakili provinsi masing-masing. Tidak hanya kemampuan komunikasi yang menjadi perhatian, peserta juga membawa karya nyata dari daerah asal mereka.

"Pesertanya ada 68 orang dari 34 provinsi yang ikut, tentu ini bagian yang terus kita lestarikan, tidak hanya kita lomba bicara, lomba pidato, lomba visi dan misi, tetapi prosesnya sudah panjang, kemudian mereka juga punya karya nyata dari masing-masing provinsi yang dipresentasikan kepada dewan juri," ujar dia.

Keterlibatan anak muda melalui program Genre juga diharapkan tidak berhenti pada kegiatan seremonial. Mereka didorong untuk hadir di tengah masyarakat dan menjalankan peran sesuai dengan kebutuhan generasi sebaya maupun lingkungannya.

Kampanyekan Tiga Isu Generasi Berencana

Wihaji menyebut terdapat tiga isu utama yang terus dikampanyekan oleh Genre sebagai bagian dari upaya membangun generasi berkualitas menuju Indonesia Emas 2045.

Ketiga isu tersebut yakni menghindari seks bebas, mencegah pernikahan dini, serta menjauhi narkoba.

"Tiga isu inilah yang setiap hari mereka di lini lapangan senantiasa kampanyekan, jadi tiga hal yang berkenaan dengan isu-isu generasi berencana," tuturnya.

Program tersebut juga berkaitan dengan keberadaan Pusat Informasi dan Konseling Remaja (PIK-R) yang menjadi ruang bagi remaja untuk mendapatkan informasi dan berdiskusi mengenai berbagai persoalan yang mereka hadapi.

Raffi Ahmad Ingatkan Bahaya Hoaks

Sementara itu, Utusan Khusus Presiden Bidang Pembinaan Generasi Muda dan Pekerja Seni, Raffi Ahmad, menyoroti tantangan lain yang dihadapi generasi muda di tengah perkembangan teknologi digital.

Raffi mendorong anggota Genre menjadi teladan dalam menyikapi informasi yang beredar di media sosial, khususnya dengan tidak mudah mempercayai informasi yang belum diketahui kebenarannya.

"Kalau dulu nenek moyang kita berperang melawan penjajah, adik-adik, kita sekarang harus bisa berperang melawan hoaks di dunia digital. Adik-adik semua harus belajar dan memahami, cek dulu (kebenaran informasi), jangan mudah terprovokasi dan saling bergunjing," ucap Raffi.

PIK-R Jadi Ruang Berbagi Remaja

Raffi juga menekankan pentingnya peran teman sebaya melalui PIK-R. Menurutnya, remaja terkadang lebih nyaman menceritakan persoalan yang dihadapi kepada teman seusianya dibandingkan langsung kepada orang tua atau keluarga.

Karena itu, keberadaan PIK-R dapat menjadi ruang untuk berbagi informasi dan berdiskusi antarremaja.

"Di Instagram, Twitter atau media sosial lainnya, jangan provokatif. Kalau ada hal-hal yang tidak berkenan, bercerita lah dan saling berbagi dengan satu sama lain," tutur Raffi.

Melalui berbagai peran tersebut, Genre diharapkan dapat menjadi bagian dari penguatan kapasitas generasi muda, baik melalui edukasi sebaya, kampanye isu remaja maupun keterlibatan dalam pemulihan masyarakat ketika terjadi bencana.

A
AmunPenulis
💬

Diskusi

Bagikan pendapat Anda
0 komentar

Lengkapi data kamu

Sekali isi untuk bisa berkomentar.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Artikel Terkait

News Update

iklan