Jumat, 30 Okt 2026 NasionalDaerahEkonomiParlemenKata Soksi
Breaking
Beranda › Ekonomi
Ekonomi

TFR Indonesia Capai 2,13, Wihaji Soroti Ketimpangan Antarwilayah

✍️ Amun 🕒 16 Sep 2026
Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Mendukbangga) Wihaji
Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Mendukbangga) Wihaji Foto: Istimewa

Pemerintah menaruh perhatian pada perbedaan tingkat kelahiran yang masih terjadi di berbagai daerah meski angka Total Fertility Rate (TFR) Indonesia telah berada di level 2,13.

Soksinews.id - Pemerintah menaruh perhatian pada perbedaan tingkat kelahiran yang masih terjadi di berbagai daerah meski angka Total Fertility Rate (TFR) Indonesia telah berada di level 2,13.

Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Mendukbangga) Wihaji mengatakan kondisi tersebut menunjukkan bahwa perkembangan fertilitas belum merata di seluruh wilayah Indonesia.

Dalam rapat bersama DPR di Jakarta, Selasa, Wihaji memaparkan sejumlah daerah yang memiliki angka TFR cukup tinggi. Papua Pegunungan berada di posisi tertinggi dengan angka 2,78, kemudian Papua 2,74 dan Nusa Tenggara Timur (NTT) 2,72.

Sebaliknya, angka fertilitas terendah tercatat di Jakarta dengan 1,79. Berikutnya Jawa Timur berada di angka 1,95 dan Banten 1,96.

"Artinya sudah menjadi perhatian, karena standar kita ada 2,1 atau 2,0 untuk melihat jumlah penduduk dan luas geografi dan sekalian rumus kependudukan," kata Mendukbangga Wihaji.

Data tersebut menunjukkan perubahan cukup besar dalam struktur fertilitas Indonesia dalam beberapa dekade terakhir. TFR nasional yang pada 1971 masih mencapai 5,6 telah turun menjadi 2,13 pada 2025.

Namun, penurunan angka kelahiran tersebut tidak berlangsung dengan pola yang sama di setiap provinsi.

Secara demografi, TFR menggambarkan rata-rata jumlah anak yang dilahirkan perempuan sepanjang masa reproduksi, yakni pada rentang usia 15 hingga 49 tahun. Angka sekitar 2,1 umumnya digunakan sebagai acuan tingkat fertilitas pengganti untuk menjaga jumlah penduduk relatif stabil dalam jangka panjang.

Perbedaan fertilitas tersebut berjalan beriringan dengan kondisi struktur usia penduduk di masing-masing wilayah. Wihaji menyebut rasio ketergantungan penduduk Indonesia secara nasional saat ini berada di angka 44,30.

Papua Selatan tercatat memiliki rasio ketergantungan paling tinggi, yakni 75,40.

"Angka 75,40 berarti di antara 100 yang produktif menanggung 75, kira-kira gitu. Kemudian Papua, kemudian Nusa Tenggara Timur, angkanya 54, sedangkan yang paling produktif itu di DKI Jakarta 40, Kalimantan Timur, kemudian Papua Pegunungan," katanya.

Menurut Wihaji, pengelolaan kependudukan tidak hanya berkaitan dengan jumlah penduduk, tetapi juga harus dibarengi dengan peningkatan kualitas sumber daya manusia.

Karena itu, pemerintah menjalankan sejumlah kebijakan untuk menjaga keseimbangan pertumbuhan penduduk. Program yang dilakukan antara lain mendorong pendewasaan usia perkawinan, mencegah perkawinan anak, memperkuat program keluarga berencana (KB), serta meningkatkan layanan kesehatan ibu dan anak.

Pemerintah juga memperluas edukasi mengenai kesehatan reproduksi dan seksualitas bagi remaja serta akses masyarakat terhadap layanan KB.

Di sisi lain, penguatan kualitas penduduk dan ketahanan keluarga dilakukan melalui sejumlah program. Salah satunya Taman Asuh Sayang Anak (TAMASYA), yang diarahkan untuk mendukung pengasuhan anak usia dini.

Program lainnya menyasar kelompok lanjut usia dengan mendorong mereka tetap produktif dan berperan dalam pengembangan silver economy.

Upaya penanganan stunting juga terus dilakukan melalui Gerakan Orang Tua Asuh Cegah Stunting (GENTING) dan Dapur Sehat Atasi Stunting (DASHAT).

A
AmunPenulis
💬

Diskusi

Bagikan pendapat Anda
0 komentar

Lengkapi data kamu

Sekali isi untuk bisa berkomentar.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Artikel Terkait

News Update

iklan