Jumat, 30 Okt 2026 NasionalDaerahEkonomiParlemenKata Soksi
Breaking
Beranda › Nasional
Nasional

Sarmuji Tegaskan Impor Harus Selektif, Bahan Baku dan Komponen Industri Tetap Diprioritaskan

✍️ Amun 🕒 09 Oct 2026
Menteri Perindustrian (Menperin) Sarmuji
Menteri Perindustrian (Menperin) Sarmuji Foto: Istimewa

Soksinews.id - Menteri Perindustrian (Menperin) Sarmuji meminta kebijakan impor barang dilakukan secara selektif untuk melindungi industri dalam negeri tanpa menghambat ketersediaan bahan baku dan barang modal yang dibutuhkan sektor manufaktur.

Sarmuji menegaskan, pengaturan impor harus mempertimbangkan kemampuan produksi nasional serta kebutuhan setiap sektor industri. Barang yang sudah dapat diproduksi di dalam negeri perlu mendapat perlakuan berbeda dari bahan baku, komponen, maupun barang modal yang masih dibutuhkan untuk mendukung kegiatan produksi.

"Impor barang jadi yang sebenarnya sudah bisa diproduksi di dalam negeri perlu dilihat secara selektif. Jangan sampai kita membuka impor terlalu lebar dan justru menekan industri sendiri," ujar Sarmuji dalam acara Manufacture Check CNBC Indonesia di Kementerian Perindustrian, Jumat (9/10/2026).

Menurut Sarmuji, impor produk jadi yang terlalu terbuka berpotensi menekan produsen domestik, terutama ketika industri nasional sebenarnya memiliki kapasitas untuk memenuhi kebutuhan pasar. Karena itu, kebijakan impor perlu diarahkan agar industri lokal tetap memiliki ruang untuk tumbuh dan meningkatkan daya saing.

Meski demikian, ia menekankan bahwa selektivitas impor bukan berarti seluruh barang dari luar negeri harus dibatasi. Pasokan bahan baku, komponen, dan barang modal tetap perlu dijaga agar proses produksi tidak terganggu dan kapasitas manufaktur nasional dapat terus berkembang.

Sarmuji mencontohkan industri ban untuk menjelaskan pentingnya memahami posisi suatu produk dalam rantai pasok. Ban merupakan barang jadi ketika dijual kepada konsumen, tetapi pada industri otomotif, produk tersebut menjadi komponen yang diperlukan dalam proses pembuatan kendaraan.

"Kita harus melihat konteksnya. Ban memang barang jadi ketika dijual kepada konsumen, tetapi bagi industri otomotif, ban merupakan bagian dari komponen produksi," katanya.

Menurutnya, perbedaan fungsi tersebut perlu menjadi pertimbangan dalam merumuskan kebijakan impor. Pengelompokan barang tidak cukup hanya berdasarkan bentuk akhir produk, tetapi juga harus memperhatikan penggunaannya dalam proses manufaktur.

Pendekatan tersebut dinilai penting untuk menjaga keseimbangan antara perlindungan produsen dalam negeri dan kelancaran rantai pasok industri. Terlebih, sektor manufaktur membutuhkan ketersediaan komponen yang memadai untuk menghasilkan produk berkualitas dan kompetitif, baik untuk pasar domestik maupun ekspor.

"Prinsipnya, industri dalam negeri harus diperkuat, tetapi kebutuhan bahan baku dan komponen juga harus diperhitungkan. Kebijakannya harus selektif dan melihat kebutuhan masing-masing sektor," tutup Sarmuji.

A
AmunPenulis
💬

Diskusi

Bagikan pendapat Anda
0 komentar

Lengkapi data kamu

Sekali isi untuk bisa berkomentar.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Artikel Terkait

News Update

iklan