PMI Manufaktur Indonesia Tembus 54,0, Tertinggi dalam 31 Bulan Terakhir
Soksinews.id - Kinerja industri manufaktur Indonesia menunjukkan tren penguatan. Purchasing Managers' Index (PMI) Manufaktur Indonesia pada Oktober 2026 mencapai 54,0, meningkat dari 52,4 pada September 2026. Capaian tersebut menjadi level ekspansi tertinggi sejak Maret 2024 atau dalam 31 bulan terakhir.
Menteri Perindustrian (Menperin) Muhammad Sarmuji mengatakan, peningkatan PMI tersebut menjadi indikasi membaiknya aktivitas industri nasional. Angka 54,0 juga semakin jauh berada di atas ambang batas ekspansi sebesar 50 poin.
"PMI manufaktur Indonesia pada Oktober 2026 kembali meningkat dan berada semakin jauh di atas ambang batas ekspansi 50 poin. Ini merupakan perkembangan yang positif dan menjadi indikasi bahwa aktivitas industri nasional terus bergerak ke arah yang lebih baik," ujar Sarmuji dalam keterangan tertulis yang dikonfirmasi di Jakarta, Senin.
Menurut Sarmuji, momentum pertumbuhan tersebut perlu dijaga agar memberikan kontribusi lebih besar terhadap perekonomian nasional, terutama dalam mendorong investasi, penciptaan lapangan kerja, dan peningkatan daya saing industri.
Berdasarkan laporan S&P Global, penguatan PMI manufaktur Indonesia ditopang oleh peningkatan pesanan baru dengan laju pertumbuhan tercepat dalam lima tahun terakhir. Kondisi tersebut didorong meningkatnya kepercayaan pasar serta peluncuran berbagai produk baru.
Selain pasar domestik, permintaan dari luar negeri juga menunjukkan perkembangan positif. Pesanan ekspor baru mencatatkan pertumbuhan tertinggi sejak survei PMI pertama kali dilakukan pada April 2011. Hal ini mencerminkan meningkatnya permintaan pasar internasional terhadap produk manufaktur Indonesia.
Capaian PMI Indonesia juga berada di atas sejumlah negara di kawasan Asia Pasifik. Pada Oktober 2026, PMI Jepang tercatat 53,3, Vietnam 52,3, China 52,0, Korea Selatan 51,3, Malaysia 51,0, dan Australia 49,6.
Dalam indikator PMI, angka di atas 50 menunjukkan aktivitas manufaktur mengalami ekspansi atau perbaikan dibandingkan bulan sebelumnya. Sementara angka di bawah 50 menandakan kontraksi. Semakin tinggi angka PMI, semakin kuat laju ekspansi sektor manufaktur.
Meski mencatatkan pertumbuhan positif, Kementerian Perindustrian (Kemenperin) mengingatkan agar capaian tersebut tidak membuat Indonesia berpuas diri. Pemerintah masih perlu memperkuat berbagai aspek untuk menjaga keberlanjutan pertumbuhan industri nasional.
Sarmuji menyebut pemerintah terus mendorong terciptanya iklim usaha yang kondusif melalui penguatan ekosistem manufaktur, peningkatan penggunaan produk dalam negeri, serta perlindungan pasar domestik dari persaingan impor yang tidak sehat.
Pemerintah juga berupaya meningkatkan kepastian pasokan energi dan bahan baku bagi sektor industri agar kegiatan produksi dapat berjalan secara berkelanjutan.
"Industri yang sudah memiliki kemampuan produksi harus terus diperkuat, sedangkan industri yang masih membutuhkan dukungan harus kita pacu agar semakin berkembang. Kita ingin pertumbuhan manufaktur tidak hanya terlihat dari indikator survei, tetapi juga tercermin dalam peningkatan produksi, investasi, ekspor, dan penyerapan tenaga kerja," tegasnya.
Penguatan PMI manufaktur tersebut juga sejalan dengan peningkatan Indeks Kepercayaan Industri (IKI) pada Oktober 2026. Berdasarkan data Kemenperin, IKI tercatat sebesar 53,77 atau naik 1,84 poin dibandingkan September 2026 yang berada di level 51,93.
Angka tersebut juga lebih tinggi 0,27 poin dibandingkan IKI Oktober 2025 sebesar 53,50. Perkembangan ini menunjukkan berlanjutnya penguatan kepercayaan pelaku industri terhadap kondisi usaha manufaktur nasional.
Sebelumnya, Direktur Bidang Ekonomi S&P Global Market Intelligence, Trevor Balchin, menyampaikan bahwa sektor manufaktur Indonesia menutup triwulan ketiga dengan kinerja yang kuat.
Ia menjelaskan, peningkatan produksi dan pesanan baru yang didukung pertumbuhan ekspor menjadi faktor penting dalam mendorong penguatan aktivitas manufaktur Indonesia.
