Jumat, 30 Okt 2026 NasionalDaerahEkonomiParlemenKata Soksi
Breaking
Beranda › Nasional
Nasional

Pakar ITS Apresiasi Diplomasi Energi Bahlil ke AS dan Rusia, Ketahanan Energi Jadi Sorotan

✍️ Amun 🕒 09 Oct 2026
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) sekaligus Menteri Koordinator Bidang Hilirisasi dan Transisi Energi, Bahlil Lahadalia
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) sekaligus Menteri Koordinator Bidang Hilirisasi dan Transisi Energi, Bahlil Lahadalia Foto: Istimewa

Soksinews.id - Pakar energi Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Ary Bachtiar, mengapresiasi langkah Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) sekaligus Menteri Koordinator Bidang Hilirisasi dan Transisi Energi, Bahlil Lahadalia, dalam memperkuat diplomasi energi dengan sejumlah negara, termasuk Amerika Serikat (AS) dan Rusia.

Menurut Ary, langkah tersebut menjadi strategi penting untuk menjaga ketahanan energi nasional di tengah ketidakpastian geopolitik global yang berdampak terhadap pasokan dan harga energi.

"Diplomasi yang dilakukan Menteri ESDM ke berbagai negara, termasuk Amerika Serikat dan Rusia, merupakan langkah taktis jangka pendek yang sangat krusial untuk mengamankan pasokan fisik atau supply security dan kepastian harga atau price stability," ujar Ary saat dihubungi, Kamis (8/10/2026).

Ary menilai strategi Bahlil tidak hanya bertumpu pada diplomasi internasional, tetapi juga mencakup peningkatan produksi minyak dalam negeri melalui kenaikan lifting serta pengembangan bahan bakar nabati melalui program B50 dan E50.

Kombinasi kebijakan tersebut dinilai dapat menjawab kebutuhan energi nasional dari dua sisi sekaligus, yakni mengamankan pasokan dalam jangka pendek dan mengurangi ketergantungan terhadap impor energi dalam jangka menengah hingga panjang.

"Kombinasi tersebut merupakan kebijakan yang sangat tepat dan komprehensif karena menyerang masalah dari dua sisi sekaligus, yakni mengamankan keran pasokan luar negeri dalam jangka pendek dan melepaskan ketergantungan melalui substitusi domestik dalam jangka menengah hingga panjang," jelasnya.

Meski demikian, Ary mengingatkan pemerintah agar bergerak cepat mencari sumber minyak mentah dari berbagai negara dengan harga dan keekonomian yang kompetitif. Ketersediaan bahan baku tersebut penting untuk menjaga keberlangsungan operasional kilang domestik, termasuk di Cilacap, Balongan, dan Balikpapan.

Ia menilai diplomasi energi perlu berjalan beriringan dengan percepatan modernisasi kilang serta pembenahan tata kelola sektor hulu minyak dan gas bumi (migas). Dengan demikian, Indonesia dapat secara bertahap mengurangi ketergantungan terhadap pasokan energi dari luar negeri.

Selain mengamankan pasokan minyak, Ary memandang pengembangan biodiesel dan bioetanol sebagai peluang strategis untuk memanfaatkan sumber daya domestik, seperti kelapa sawit, tebu, dan singkong. Namun, implementasinya harus memperhatikan kesiapan industri, keberlanjutan lingkungan, serta keseimbangan antara kebutuhan energi dan pangan.

Ary juga menilai integrasi kebijakan sektor ESDM dengan agenda hilirisasi yang dikoordinasikan Bahlil dapat memperkuat kedaulatan energi Indonesia. Penyatuan koordinasi tersebut dinilai berpotensi mempercepat pengembangan industri pengolahan sumber daya alam, termasuk hilirisasi gas bumi dan batu bara menjadi produk bernilai tambah.

"Penyatuan portofolio sektor ESDM dan koordinasi hilirisasi di bawah satu komando merupakan langkah strategis yang tepat. Integrasi ini memastikan bahwa rantai nilai energi kita berjalan utuh, dari perut bumi dikelola, diolah di dalam negeri, hingga menjadi produk bernilai tambah tinggi," katanya.

Sebelumnya, Bahlil menegaskan pentingnya memperkuat ketahanan energi nasional di tengah ketidakpastian geopolitik global. Menurutnya, konflik yang berlangsung di berbagai kawasan dunia telah menimbulkan dampak luas terhadap rantai pasok industri dan harga bahan bakar minyak (BBM).

Dalam acara Investor Daily Summit 2026, Rabu (7/10/2026), Bahlil mengatakan dampak ketegangan geopolitik tidak hanya dirasakan negara-negara yang terlibat langsung dalam konflik, tetapi juga merembet ke berbagai negara, termasuk Indonesia.

“Saya ingin menekankan bahwa dalam kondisi geopolitik yang terjadi sekarang, yang tidak menentu, melahirkan ketidakpastian di hampir semua dunia. Dan geopolitik ini tidak hanya menjadi ketegangan antara Amerika, Israel, Palestina, Ukraina, dan Rusia,” kata Bahlil.

“Betul mereka yang sedang bersengketa, tetapi dampaknya itu hampir semua, termasuk Indonesia,” tambahnya.

Bahlil menjelaskan ketidakpastian global turut memengaruhi rantai pasok industri dan kenaikan harga BBM. Komunikasi yang dilakukan dengan kementerian energi di berbagai negara pun belum menghasilkan kepastian mengenai waktu berakhirnya konflik geopolitik tersebut.

“Bagaimana rantai pasok industri, bagaimana harga BBM-nya melambung, dan saya pun melakukan komunikasi lintas negara dengan kementerian-kementerian energi di dunia. Hampir dapat dipastikan tidak ada yang bisa menjawab kapan selesai persoalan yang terjadi. Tidak ada yang bisa meramalkan itu,” katanya.

A
AmunPenulis
💬

Diskusi

Bagikan pendapat Anda
0 komentar

Lengkapi data kamu

Sekali isi untuk bisa berkomentar.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Artikel Terkait

News Update

iklan