Jumat, 30 Okt 2026 NasionalDaerahEkonomiParlemenKata Soksi
Breaking
Beranda › Nasional
Nasional

Mukhtarudin Buka Peluang Kerja Global, 212 Ribu Lowongan Luar Negeri Masih Tersedia

✍️ Amun 🕒 09 Oct 2026
Menteri Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (P2MI) Mukhtarudin
Menteri Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (P2MI) Mukhtarudin Foto: Istimewa

Soksinews.id - Menteri Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (P2MI) Mukhtarudin mendorong penguatan kompetensi tenaga kerja Indonesia melalui Program SMK Go Global untuk memenuhi kebutuhan pasar kerja internasional. Hingga 4 Oktober 2026, tercatat 212.182 peluang kerja luar negeri masih tersedia bagi tenaga kerja Indonesia.

Berdasarkan data Sistem Informasi Pasar Kerja Luar Negeri (SIP2MI), dari total 287.291 posisi yang tersedia, sebanyak 75.109 posisi atau 26,14 persen telah terserap. Sementara itu, 73,86 persen atau 212.182 posisi lainnya masih menunggu tenaga kerja yang memenuhi kualifikasi.

Mukhtarudin mengatakan, SMK Go Global dirancang untuk menyiapkan calon pekerja migran yang terampil, profesional, dan mampu bersaing di tingkat internasional. Program tersebut sekaligus menjadi upaya memperkuat pelindungan pekerja migran sejak sebelum keberangkatan melalui peningkatan kompetensi dan pemahaman mengenai prosedur penempatan resmi.

"SMK Go Global merupakan upaya nyata pemerintah untuk menyiapkan Pekerja Migran Indonesia yang terampil, profesional, dan berdaya saing global. Program ini juga menjadi bentuk pelindungan dari hulu, dengan membekali peserta kompetensi yang sesuai kebutuhan pasar kerja internasional agar siap bekerja melalui jalur yang legal, aman, dan terlindungi," kata Mukhtarudin dalam keterangannya, Jumat (9/10/2026).

Hal tersebut disampaikan Mukhtarudin saat melakukan kunjungan kerja ke Universitas Kebangsaan Republik Indonesia (UKRI), Bandung, Jawa Barat. Dalam kunjungan itu, ia meninjau pelaksanaan pelatihan SMK Go Global sekaligus mengapresiasi keterlibatan perguruan tinggi dalam menyiapkan sumber daya manusia yang sesuai dengan kebutuhan industri global.

Berdasarkan data per 8 Oktober 2026, jumlah peserta pelatihan SMK Go Global di wilayah kerja Balai Pelayanan Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (BP3MI) Jawa Barat mencapai 1.319 orang. Jumlah tersebut menjadi yang tertinggi sementara dibandingkan wilayah kerja BP3MI lainnya.

Khusus di UKRI, pelatihan diikuti 175 peserta yang terbagi dalam sembilan kelas. Programnya meliputi pelatihan operation production dan bahasa Inggris bagi 57 peserta dalam tiga kelas, welder dan bahasa Inggris bagi 20 peserta dalam satu kelas, serta barista dan bahasa Inggris bagi 98 peserta dalam lima kelas.

Menurut Mukhtarudin, pelatihan tersebut merupakan program peningkatan kompetensi atau upskilling bagi peserta yang telah memiliki kemampuan dasar sesuai bidangnya. Melalui pelatihan dan sertifikasi, peserta diharapkan mampu memenuhi standar kompetensi yang dibutuhkan perusahaan di negara tujuan.

Ia menilai peluang kerja internasional perlu dimanfaatkan secara optimal, terutama di tengah bonus demografi Indonesia. Di saat Indonesia memiliki jumlah penduduk usia produktif yang besar, sejumlah negara justru menghadapi kekurangan tenaga kerja akibat peningkatan populasi lanjut usia atau aging population.

"Penguatan tenaga kerja terampil semakin penting di tengah bonus demografi Indonesia. Ketika Indonesia memiliki jumlah penduduk usia produktif yang besar, sejumlah negara justru menghadapi kekurangan tenaga kerja akibat fenomena penuaan penduduk atau aging population," imbuh Mukhtarudin.

Namun, besarnya peluang tersebut perlu diimbangi dengan penguasaan keterampilan, bahasa asing, kedisiplinan, serta pemahaman budaya kerja negara tujuan. Persiapan yang matang diperlukan agar pekerja migran Indonesia dapat memenuhi kebutuhan pemberi kerja sekaligus menjalankan pekerjaannya secara profesional.

Mukhtarudin menegaskan, pelatihan dalam Program SMK Go Global dibiayai sepenuhnya melalui Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Pembiayaan tersebut merupakan bentuk komitmen pemerintah untuk menyediakan pelatihan berkualitas yang sesuai dengan kebutuhan pasar kerja internasional.

"Pelatihan dalam Program SMK Go Global ini sepenuhnya dibiayai melalui APBN. Ini merupakan wujud komitmen Kementerian P2MI untuk menghadirkan pelatihan berkualitas dan sesuai dengan kebutuhan pasar kerja internasional," ujarnya.

Pelaksanaan program ini berlandaskan Asta Mandala SMK Go Global, yang dirancang agar kebijakan penempatan pekerja migran tidak hanya berorientasi pada jumlah tenaga kerja yang diberangkatkan. Pemerintah juga mendorong Panca Sukses yang mencakup sukses kompetensi, pelindungan, penempatan, remitansi, dan tata kelola.

Kelima sasaran tersebut diharapkan menghasilkan Tri Dampak berupa dampak sosial, peningkatan kualitas sumber daya manusia, dan dampak ekonomi.

Untuk memperluas jangkauan program, Kementerian P2MI menargetkan pembentukan 2.000 kelas pelatihan di seluruh 23 wilayah kerja BP3MI. UKRI menjadi salah satu mitra pelaksana, dengan kegiatan pelatihan yang telah berlangsung sejak awal September 2026.

Pemerintah juga menetapkan target penempatan pekerja migran melalui SMK Go Global secara bertahap, yakni 40.000 orang pada 2026, 140.000 orang pada 2027, 180.000 orang pada 2028, dan 140.000 orang pada 2029.

Mukhtarudin meminta para peserta memanfaatkan kesempatan pelatihan dengan sungguh-sungguh. Ia menekankan bahwa peningkatan keterampilan harus disertai penguatan kemampuan bahasa, kedisiplinan, dan pemahaman budaya kerja agar peserta lebih siap menghadapi lingkungan profesional di luar negeri.

Menurutnya, penyiapan kompetensi sejak di dalam negeri merupakan bagian penting dari pelindungan pekerja migran. Dengan keterampilan dan sertifikasi yang sesuai, calon pekerja migran diharapkan dapat mengakses peluang kerja melalui prosedur resmi sekaligus menghindari risiko penempatan nonprosedural.

Sementara itu, Wakil Rektor II UKRI Erdiansyah mengapresiasi kunjungan Menteri P2MI dan pelaksanaan SMK Go Global di lingkungan kampusnya. Ia berharap kegiatan tersebut menjadi awal kolaborasi berkelanjutan antara UKRI, Kementerian P2MI, Pemerintah Provinsi Jawa Barat, BP3MI Jawa Barat, Dinas Tenaga Kerja, dan pemangku kepentingan lainnya.

Erdiansyah menilai sinergi antara perguruan tinggi dan pemerintah diperlukan untuk membangun ekosistem pendidikan dan pelatihan yang mampu menjawab kebutuhan tenaga kerja global.

"Kita ingin agar ketika anak-anak muda Indonesia bekerja di luar negeri, mereka bukan hanya dikenal sebagai tenaga kerja, tetapi dikenal sebagai tenaga profesional Indonesia yang kompeten, berintegritas, berbudaya, dan mampu menjaga nama baik bangsa," ujar Erdiansyah.

Ia berharap SMK Go Global 2026 dapat membuka kesempatan lebih luas bagi generasi muda untuk mengembangkan kompetensi dan berkarier di tingkat internasional. Melalui program tersebut, UKRI juga berharap dapat berkontribusi dalam menyiapkan sumber daya manusia yang mampu bersaing di pasar global sekaligus menjaga martabat bangsa.

Kunjungan kerja tersebut turut dihadiri Wakil Gubernur Jawa Barat Erwan Setiawan, Wakil Rektor I UKRI Heni Haryani, Wakil Rektor II UKRI Erdiansyah, Wakil Rektor III UKRI Suhaeri, pimpinan unit di lingkungan universitas, mahasiswa UKRI, serta pejabat pimpinan tinggi pratama di lingkungan Pemerintah Provinsi Jawa Barat.

Melalui penguatan pelatihan dan kolaborasi lintas sektor, Mukhtarudin berharap Program SMK Go Global dapat membantu tenaga kerja Indonesia memanfaatkan peluang internasional secara optimal, sekaligus memastikan proses migrasi kerja berlangsung secara legal, aman, dan terlindungi. Upaya tersebut sejalan dengan semangat Kementerian P2MI, yakni "Migran Aman, Rakyat Sejahtera, Indonesia Maju".

A
AmunPenulis
💬

Diskusi

Bagikan pendapat Anda
0 komentar

Lengkapi data kamu

Sekali isi untuk bisa berkomentar.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Artikel Terkait

News Update

iklan