Menperin Sarmuji Minta Hubungan Indonesia Dan Singapura Tetap Harmonis
Soksinews.id - Menteri Perindustrian Muhammad Sarmuji menekankan pentingnya menjaga keharmonisan hubungan bilateral serta iklim investasi antara Indonesia dan Singapura di tengah dinamika persoalan ekspor gas hingga isu pemutusan jalur internet. Keterangan tersebut disampaikan Sarmuji di Kantor Kementerian Perindustrian, Jakarta Selatan, Rabu (28/10/2026).
Sarmuji menilai riak-riak perbedaan kepentingan dalam relasi antarnegara tetangga merupakan hal yang wajar dan justru membuka ruang komunikasi produktif, seperti ditunjukkan melalui pertemuan kedua menteri luar negeri baru-baru ini. Mengingat Singapura menyumbang hingga US$ 14 miliar atau 29,6 persen dari total Penanaman Modal Asing (PMA) di tanah air hingga kuartal III-2026, Sarmuji menegaskan kedua negara sama-sama berkepentingan memperkuat kerja sama yang saling menguntungkan dan menghormati.
"Kadang-kadang hubungan itu naik turun, ya. Kadang-kadang sahabat, bahkan pacar, itu ya ada seperti benci tapi rindu. Kadang kalau enggak ada riak-riak begitu, kurang kangennya," ujar Sarmuji, Menteri Perindustrian.
Komunikasi diplomatik tingkat tinggi dinilai menjadi bukti konkret penyelesaian perbedaan pandangan secara konstruktif demi kepentingan bersama.
"Buktinya apa kemarin? Begitu ada isu begitu, ada isu ya riak-riak kecil-kecil, ternyata antar Menlu ketemu. Lalu justru terbangun kerja sama-kerja sama yang menurut saya sangat produktif, ya. Ada kerja sama misalkan investigasi bersama tentang kebakaran karhutla dan macam-macam. Ya, dinamika bertetangga, mudah-mudahan makin lama makin baik, ya," ujar Sarmuji.
Prinsip kesetaraan dan rasa saling menghormati diposisikan sebagai fondasi utama dalam memelihara iklim investasi serta stabilitas kawasan.
"Ya pasti (iklim investasi dijaga). Pasti ini kelihatannya kan sama-sama menjaga itu. Singapura juga menjaga agar hubungannya tetap harmonis, kita juga pasti punya kepentingan agar hubungan tetap harmonis dengan Singapura. Kita ini kan antartetangga mungkin perlu dikembangkan simbiosis mutualisme. Saling menguntungkan. Dengan demikian, dalam tata krama pergaulan pasti kita penginnya saling menghormati. Ya," ujar Sarmuji.
Berbagai hasil data dan survei industri dipandang sebagai bahan evaluasi pemerintah untuk terus memacu pertumbuhan ekonomi ke depan.
"Ya buat kita itu, survei-survei seperti itu sebenarnya adalah cermin. Supaya kita punya basis untuk bertindak. Tapi kita tidak usah terlalu sangat khawatir, karena namanya cermin itu tujuannya bukan untuk kita takut melangkah, tetapi kita punya antisipasi apa saja yang diperlukan supaya kita melangkah lebih maju lagi," ujar Sarmuji.
