Menperin Sarmuji Janji Dorong Daya Saing Dan Proteksi Industri Nasional
Soksinews.id - Menteri Perindustrian Muhammad Sarmuji menegaskan komitmen pemerintah untuk memperkuat daya saing industri manufaktur nasional melalui penyediaan bahan baku kompetitif serta perlindungan sektor strategis dari tekanan produk impor. Keterangan tersebut disampaikan usai Sarmuji menggelar pertemuan bersama Gabungan Produsen Makanan Minuman Indonesia (GAPMMI) dan The Indonesian Iron and Steel Industry Association (IISIA) di Jakarta, Rabu (14/10/2026).
Guna mengatasi tingginya harga beras pecah lokal yang membebani produsen pangan, Kemenperin tengah berkoordinasi dengan Kementerian Pertanian untuk mengkaji skema alokasi stok beras tua Perum Bulog. Sementara untuk industri baja, pemerintah menyiapkan instrumen proteksi tarif dan nontarif demi melindungi produsen dalam negeri dari gempuran berlebih pasokan baja impor global.
“Kami menerima berbagai aspirasi dari pelaku industri makanan dan minuman serta industri baja. Kementerian Perindustrian akan terus memberikan dukungan agar industri nasional semakin berdaya saing, termasuk mencarikan solusi terhadap berbagai persoalan yang mereka hadapi,” kata Menperin Sarmuji di Jakarta, Rabu (14/10).
Kesenjangan harga bahan baku pangan berpotensi menurunkan kemampuan daya saing manufaktur lokal di pasar komersial.
“Selisih harga ini cukup besar dan tentu memengaruhi daya saing industri. Kalau harga bahan bakunya terlalu tinggi, industri seperti bihun akan sulit bersaing. Karena itu, kita sedang mencari solusi agar bahan baku bisa diperoleh dengan harga yang lebih kompetitif,” ujarnya.
Pemanfaatan pasokan beras Bulog dijajaki sebagai opsi solusi pemenuhan kebutuhan bahan baku sektor pengolahan makanan.
“Kita sedang mencari cara agar stok beras Bulog yang sudah lama tersimpan dapat dimanfaatkan industri, tentunya dengan harga yang bisa ditoleransi oleh pelaku usaha. Saya juga sudah berkoordinasi dengan Kementerian Pertanian untuk membahas persoalan ini,” ungkapnya.
Perlindungan khusus disiapkan untuk memagari keberlangsungan industri baja nasional dari persaingan produk impor luar negeri.
“Untuk industri strategis seperti baja, tentu perlu ada proteksi, baik melalui instrumen tarif maupun nontarif. Namun, proteksi saja tidak cukup. Kita juga harus meningkatkan daya saing industri agar semakin tangguh menghadapi persaingan global,” tegas Sarmuji.
