Jumat, 30 Okt 2026 NasionalDaerahEkonomiParlemenKata Soksi
Breaking
Beranda › Nasional
Nasional

Menperin Sarmuji Dorong Teknologi CCU Untuk Dekarbonisasi Dan Komoditas Industri

✍️ Ozi 🕒 17 Oct 2026
Menteri Perindustrian Muhammad Sarmuji
Menteri Perindustrian Muhammad Sarmuji Foto: Istimewa

Soksinews.id - Menteri Perindustrian Muhammad Sarmuji menegaskan bahwa penyerapan teknologi rendah karbon seperti Carbon Capture and Utilization (CCU) merupakan strategi krusial untuk mempercepat dekarbonisasi manufaktur sekaligus mendongkrak daya saing ekonomi nasional.

Pernyataan tersebut disampaikan Sarmuji saat meninjau proyek percontohan pemanfaatan CCU di PT Petrokimia Gresik, Jawa Timur, Jumat (16/10/2026). Teknologi inovatif ini menangkap emisi karbon dioksida ($CO_2$) dari proses produksi lalu mengolahnya kembali menjadi produk samping bernilai jual tinggi berupa soda ash dengan tingkat kemurnian mencapai 99 persen sesuai standar SNI.

Pemanfaatan soda ash lokal ini diyakini mampu menekan ketergantungan impor nasional dan mendukung pencapaian target Net Zero Emission (NZE) sektor industri pada 2050 seiring penyusunan peta jalan penerapan teknologi hijau secara komprehensif.

“Salah satu kunci keberhasilan dekarbonisasi pada sektor industri adalah kemampuan untuk mengembangkan dan menerapkan teknologi hijau yang sesuai dengan kebutuhan, serta karakteristik proses produksi industri nasional,” ujar Menperin.

Pengolahan emisi $CO_2$ terbukti memberikan manfaat ganda bagi efisiensi manufaktur serta penciptaan nilai tambah produk baru.

“Pilot project CCU perlu kita perluas karena terbukti menghasilkan manfaat, pertama yaitu terjadi penurunan emisi karena dekarbonisasi, dan kedua menghasilkan produk yang memiliki nilai ekonomi. Teknologi CCU telah menghasilkan produk soda ash dengan jumlah yang lumayan,” tambah Menperin.

Pengembangan bahan baku alternatif hasil penangkapan emisi diposisikan sebagai solusi taktis untuk mengatasi defisit soda ash impor.

“Melalui CCU, CO₂ dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku alternatif penghasil produk industri, mengurangi ketergantungan impor soda ash, sekaligus memacu diversifikasi produk,” tambahnya.

Evaluasi kelayakan secara berkelanjutan akan dilakukan guna mengkaji skema mandatori penerapannya pada sektor industri manufaktur hingga Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU).

“Teknologi ini akan kami evaluasi secara berkelanjutan agar dapat diterapkan dalam skala industri, bukan sekadar pilot project. Manfaatnya tidak hanya dirasakan dalam proses produksi, tetapi juga oleh masyarakat secara umum,” ungkap Menperin.

Kemenperin tengah merancang panduan regulasi teknologi hijau agar penerapannya efektif tanpa membebani operasional pelaku usaha.

“Kami akan menyusun roadmap penerapan teknologi hijau. Jika terbukti efektif dan tidak membebani industri, ke depan penerapannya dapat diwajibkan. Teknologi ini juga berpotensi diterapkan pada PLTU (Pembangkit Listrik Tenaga Uap), sehingga dapat mendukung pengendalian emisi sekaligus memperpanjang umur operasional PLTU,” ujar Menperin.

O
OziPenulis
MK
Melly KartikaEditor
💬

Diskusi

Bagikan pendapat Anda
0 komentar

Lengkapi data kamu

Sekali isi untuk bisa berkomentar.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Artikel Terkait

News Update

iklan