Mendukbangga Wihaji Soroti Ketimpangan Angka Fertilitas Antarwilayah Di Indonesia
Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Mendukbangga)/Kepala BKKBN Wihaji memaparkan adanya ketimpangan angka fertilitas (Total Fertility Rate/TFR) serta rasio ketergantungan penduduk antarwilayah di Indonesia saat menghadiri rapat kerja bersama DPR RI di Jakarta, Selasa (15/9/2026).
Meskipun capaian TFR nasional berada di tingkat 2,13, dinamika di tingkat daerah menunjukkan variasi yang mencolok, di mana Papua Pegunungan mencatat angka kelahiran tertinggi yakni 2,78, sedangkan DKI Jakarta menjadi yang terendah dengan angka 1,79. Selain fertilitas, perbedaan juga tampak pada rasio ketergantungan nasional yang berada di angka 44,30, dengan beban tertinggi berada di Papua Selatan sebesar 75,40.
Guna mengatasi disparitas ini, pemerintah menyiapkan strategi kependudukan berbasis karakteristik kawasan perdesaan hingga perkotaan melalui pencegahan pernikahan anak, pendewasaan usia perkawinan, serta penguatan program keluarga seperti TAMASYA, SIDAYA, dan GENTING.
“Artinya sudah menjadi perhatian, karena standar kita ada 2,1 atau 2,0 untuk melihat jumlah penduduk dan luas geografi dan sekalian rumus kependudukan,” kata Wihaji, dikutip dari Antaranews.
Pemerintah terus mencermati perubahan demografi nasional yang secara histories telah mengalami penurunan drastis jika dibandingkan dengan era 1970-an.
Pendekatan pembangunan kependudukan ke depan dipastikan tidak lagi berfokus pada kuantitas angka kelahiran semata, melainkan pada peningkatan kualitas sumber daya manusia yang seimbang di tiap daerah.
Program penguatan ketahanan keluarga, pemberdayaan ekonomi lansia (silver economy), serta intervensi pencegahan stunting diselaraskan dengan kebutuhan spesifik wilayah.
Wihaji mendorong terbangunnya kolaborasi lintas sektor antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, dan masyarakat agar penanganan masalah kependudukan tepat sasaran.***
