Jumat, 30 Okt 2026 NasionalDaerahEkonomiParlemenKata Soksi
Breaking
Beranda › Nasional
Nasional

Bahlil Lahadalia Pertimbangkan Moratorium Smelter Nikel Produk Setengah Jadi

✍️ Ozi 🕒 08 Oct 2026
Menteri Koordinator Bidang Hilirisasi dan Transisi Energi sekaligus Menteri ESDM Bahlil Lahadalia
Menteri Koordinator Bidang Hilirisasi dan Transisi Energi sekaligus Menteri ESDM Bahlil Lahadalia Foto: Istimewa

Soksinews.id - Pemerintah mempertimbangkan kebijakan moratorium atau pembatasan pembangunan fasilitas pemurnian (smelter) nikel yang khusus menghasilkan produk setengah jadi. Langkah ini diambil guna mengatasi gejolak surplus pasokan (oversupply) nikel di pasar internasional yang menembus angka 2,5 juta ton hingga memicu anjloknya harga komoditas global.

Menteri Koordinator Bidang Hilirisasi dan Transisi Energi sekaligus Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menegaskan hal tersebut di sela gelaran Investor Daily Summit 2026 di Jakarta, Kamis (8/10/2026). Kebijakan pengawasan ini ditujukan untuk menahan obral kekayaan alam nasional secara murah, sembari mengalihkan fokus investasi pada pengembangan industri pengolahan produk hilir bernilai tambah tinggi demi menjaga keberlanjutan cadangan energi masa depan.

"Ini kan oversupply, makanya harganya lagi jatuh. Kita dapat pertimbangkan untuk industri yang setengah jadi ini kita mulai mencoba untuk meminimalisir, bahkan mungkin kita melakukan moratorium, sementara yang kita dorong adalah industri-industri yang produk hilirnya langsung," ungkapnya di sela acara Investor Daily Summit 2026, di Jakarta, dikutip Kamis (8/10/2026).

Pemerintah akan memperketat pengendalian volume produksi dari fasilitas pemurnian nasional agar selaras dengan dinamika permintaan dunia.

"Sekalipun kapasitas terpasang contoh katakanlah 10, mungkin yang akan bisa berproduksi selama kita masih terjadi oversupply tidak sampai 10. Itu yang kita akan atur ya. Kalau kita mengikuti terus permintaan smelter, itu harga kita pasti akan jatuh," imbuhnya.

Langkah efisiensi dan pembatasan eksploitasi mineral turut dipandang sebagai ikhtiar menjaga cadangan alam yang bersifat tidak terbarukan.

"Kalau harganya lagi anjlok, jangan kita juga banjiri, nanti barang kita murah. Kita kan enggak mau barang kita dijual murah. Kalau nikel, batu bara, diambil kan enggak bisa berbuah. Jadi tolong kita jaga ini juga harus berkelanjutan untuk masa depan bangsa ya," tandasnya.

O
OziPenulis
💬

Diskusi

Bagikan pendapat Anda
0 komentar

Lengkapi data kamu

Sekali isi untuk bisa berkomentar.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Artikel Terkait

News Update

iklan