Jumat, 30 Okt 2026 NasionalDaerahEkonomiParlemenKata Soksi
Breaking
Beranda › Nasional
Nasional

Bahlil Dorong Hilirisasi Nikel dan Energi Hijau untuk Perkuat Ekspor Indonesia

✍️ Amun 🕒 14 Oct 2026
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia Foto: Istimewa

Soksinews.id - Menteri Koordinator Bidang Hilirisasi dan Transisi Energi sekaligus Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, menargetkan nilai ekspor nikel Indonesia mencapai US$ 45 miliar atau sekitar Rp 805,5 triliun pada 2026. Target tersebut didorong oleh kebijakan hilirisasi, penghentian ekspor bijih nikel mentah, serta pengembangan ekosistem industri dari hulu hingga hilir.

Bahlil menegaskan, Indonesia ke depan tidak boleh hanya menjadi negara pengekspor bahan baku. Menurutnya, kebijakan hilirisasi merupakan langkah strategis untuk meningkatkan nilai tambah komoditas mineral sekaligus memperkuat kemandirian ekonomi nasional.

Ia mengakui kebijakan tersebut menimbulkan keberatan dari sejumlah negara yang selama ini membutuhkan bahan baku dari Indonesia. Meski demikian, pemerintah tetap berkomitmen mendorong industrialisasi agar Indonesia memperoleh manfaat ekonomi yang lebih besar dari kekayaan sumber daya alamnya.

Bahlil mencontohkan nilai ekspor nikel Indonesia pada 2017–2018 yang masih berada di kisaran US$ 3,3 miliar. Setelah pemerintah menghentikan ekspor bijih nikel mentah untuk mendorong pembangunan industri pengolahan di dalam negeri, nilai ekspor komoditas tersebut mengalami peningkatan.

"Alhamdulillah nilai ekspor kita untuk di sektor mineral nikel saja pada tahun 2023 sudah mencapai US$ 34 miliar dan di tahun 2025 sudah lebih di angka U$ 40 miliar dan di tahun 2026 saya targetkan minimal di angka US$ 45 miliar. Ini baru satu komoditas," ujar Bahlil dalam pembukaan Trade Expo Indonesia (TEI) di Indonesia Convention Exhibition (ICE) BSD, Tangerang, Rabu (14/10/2026).

Menurut Bahlil, kebijakan hilirisasi tersebut turut membawa Indonesia menghadapi persoalan di World Trade Organization (WTO). Namun, ia menekankan bahwa penciptaan nilai tambah melalui hilirisasi tidak semata-mata bertujuan meningkatkan pertumbuhan ekonomi, melainkan juga memperkuat kemandirian politik dan ekonomi nasional.

Dalam kesempatan tersebut, Bahlil mengajak para delegasi luar negeri untuk menanamkan modal di Indonesia. Pemerintah, kata dia, akan mendorong pengembangan energi baru terbarukan sebagai bagian dari strategi meningkatkan daya saing industri nasional di pasar global.

"Dan karena itu saya menyampaikan kepada Bapak-Ibu semua, lakukan investasi di sini saja. Kita akan mendorong memberikan dengan energi baru terbarukan, karena produk global sekarang itu akan lebih cenderung untuk mencari produk yang green energy dan green industry. Itu nilainya pasti jauh lebih tinggi ketimbang produk-produk yang dihasilkan daripada energi fosil dan Indonesia kita semua punya," beber ia.

Bahlil juga menyinggung pengembangan bahan bakar nabati sebagai salah satu upaya Indonesia dalam mendukung transisi energi. Salah satunya melalui penerapan B50, yakni bahan bakar yang terdiri dari campuran 50 persen biodiesel berbasis minyak kelapa sawit atau fatty acid methyl ester (FAME) dan 50 persen solar fosil.

Selain biodiesel, pemerintah juga berencana mendorong penggunaan bioetanol sebagai campuran bahan bakar bensin. Langkah tersebut diharapkan dapat memperkuat pemanfaatan sumber daya domestik sekaligus meningkatkan daya saing produk Indonesia.

"Dan sekarang kita akan mendorong untuk bensin juga. Kalau ini mampu kita lakukan Bapak-Ibu semua, saya yakin Indonesia menjadi salah satu negara yang patut diperhitungkan untuk ekspor yang berkualitas dan juga mampu memberikan daya saing yang baik di mata dunia," beber Bahlil.

A
AmunPenulis
💬

Diskusi

Bagikan pendapat Anda
0 komentar

Lengkapi data kamu

Sekali isi untuk bisa berkomentar.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Artikel Terkait

News Update

iklan