Anggota Komisi X DPR Ferdiansyah Usul Desa Produksi Film Pendek untuk Promosikan Wisata
Soksinews.id - Anggota Komisi X DPR RI, Ferdiansyah, mendorong pemerintah daerah dan pelaku industri perfilman memanfaatkan film pendek sebagai sarana promosi pariwisata dan kebudayaan. Menurutnya, karya audiovisual yang mengangkat potensi lokal dapat menarik minat wisatawan sekaligus memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat dan berbagai sektor usaha di daerah.
Hal tersebut disampaikan Ferdiansyah seusai menghadiri Diskusi Film dan Pemutaran Film Pendek Indonesia yang digelar Kementerian Kebudayaan RI di Cipanas, Kabupaten Garut, Jawa Barat, Kamis.
Ferdiansyah menilai, film pendek memiliki potensi besar sebagai media promosi destinasi wisata apabila dikemas dengan konsep dan cerita yang menarik. Bahkan, menurutnya, pemerintah desa dapat mengambil peran dengan memproduksi film pendek untuk memperkenalkan potensi wisata dan kebudayaan di wilayah masing-masing.
“Sudah pasti itu (menarik wisatawan), makanya kan salah satu sarana film pendek kalau sebenarnya, kalau cerdas dari awal dulu, setiap kepala desa bisa menyediakan film pendek untuk ajang promosi,” kata Ferdiansyah.
Ia menjelaskan, kegiatan diskusi dan pemutaran film pendek tersebut rutin dilaksanakan untuk meningkatkan wawasan para pegiat film dan komunitas kreatif. Melalui kegiatan itu, para peserta diharapkan dapat mengembangkan kemampuan dalam menghasilkan karya film yang lebih berkualitas dan memiliki manfaat bagi masyarakat.
Menurut Ferdiansyah, Kabupaten Garut memiliki banyak destinasi wisata dengan karakteristik dan daya tarik tersendiri yang dapat diangkat menjadi cerita film. Potensi tersebut tidak hanya berkaitan dengan keindahan alam atau lokasi wisata, tetapi juga mencakup kearifan lokal dan tradisi masyarakat setempat.
Ia mencontohkan, promosi sejumlah destinasi di Garut dapat dilakukan melalui film berdurasi singkat, sekitar tiga hingga lima menit. Durasi tersebut dinilai cukup untuk memperkenalkan daya tarik suatu tempat melalui visual dan narasi yang menarik.
“Garut asumsi ada tujuh destinasi, saya tadi mengajak kepada Pak Kadis dibuat penggalan-penggalan film pendek, Cangkuang 4 menit, Situ Bagendit 3,5 menit atau 4 menit, ada filmnya,” katanya.
Ferdiansyah berharap, film pendek yang diproduksi tidak hanya menampilkan lokasi wisata, tetapi juga menggambarkan kehidupan sosial dan kebudayaan masyarakat di sekitarnya. Dengan pendekatan tersebut, wisatawan dapat mengenal identitas suatu daerah secara lebih mendalam sebelum berkunjung.
“Misalnya jangan bicara Cangkuang-nya saja, tapi bicara budayanya,” kata Ferdiansyah.
Ia menilai, penggabungan unsur pariwisata dan kebudayaan dapat membuat karya film memiliki nilai promosi yang lebih kuat. Cerita mengenai tradisi, kearifan lokal, dan kehidupan masyarakat dapat menjadi pembeda sekaligus memperkaya daya tarik destinasi wisata.
Selain membahas potensi film sebagai sarana promosi, kegiatan tersebut juga menghadirkan praktisi perfilman untuk memberikan pengetahuan kepada kreator muda dan pelaku industri kreatif. Materi yang diberikan mencakup peningkatan kemampuan teknis, seperti penulisan skenario, pencahayaan, dan teknik pengambilan gambar.
Para peserta juga mendapatkan wawasan mengenai pentingnya membangun kolaborasi dalam proses produksi film. Ferdiansyah menilai, kerja sama antarpelaku industri kreatif perlu diperkuat agar proses produksi dapat berjalan lebih efektif dan menghasilkan karya dengan daya tarik serta nilai jual yang lebih tinggi.
“Di sini adalah bagaimana batasan-batasan yang tadi menyangkut tadi, produksi bersama. Nah, kolaborasi ini nampaknya masih belum menjadi budaya, yang ada main sendiri-sendiri,” katanya.
