Airlangga Dorong Investasi Bernilai Tambah dalam Kemitraan Ekonomi Indonesia-AS
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mendorong peningkatan investasi bernilai tambah melalui penguatan kemitraan ekonomi antara Indonesia dan Amerika Serikat (AS).
Soksinews.id – Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mendorong peningkatan investasi bernilai tambah melalui penguatan kemitraan ekonomi antara Indonesia dan Amerika Serikat (AS). Langkah tersebut dinilai penting untuk menjaga momentum pertumbuhan ekonomi nasional sekaligus menghadapi ketidakpastian ekonomi global.
Dalam The 14th US-Indonesia Investment Summit di Jakarta, Selasa, Airlangga mengatakan kondisi fundamental ekonomi Indonesia masih menjadi salah satu faktor yang mendukung kepercayaan investor.
Ia memaparkan sejumlah indikator ekonomi nasional. Inflasi Indonesia pada September tercatat sebesar 3,28 persen, sementara investasi tumbuh 7 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) juga berada pada level 108,5.
Sejumlah indikator sosial ekonomi turut menunjukkan perkembangan. Rasio Gini tercatat sebesar 0,36, tingkat kemiskinan turun menjadi 8,7 persen, sedangkan tingkat pengangguran terbuka berada di kisaran 4,65 persen.
Hubungan perdagangan Indonesia dengan Amerika Serikat juga terus menunjukkan perkembangan. Nilai ekspor Indonesia ke AS meningkat dari 25,83 miliar dolar AS pada 2021 menjadi 31,01 miliar dolar AS pada 2025.
Sementara itu, sepanjang semester I 2026, ekspor Indonesia ke AS mencapai 15,85 miliar dolar AS. Pada periode yang sama, Indonesia mencatat surplus perdagangan sebesar 8,56 miliar dolar AS terhadap Amerika Serikat.
Dari sisi investasi, AS masih termasuk dalam lima negara utama sumber penanaman modal asing bagi Indonesia. Realisasi investasi dari AS pada semester I 2026 tercatat mencapai 1,72 miliar dolar AS.
Airlangga mengatakan pemerintah akan mengarahkan kebijakan ekonomi 2027 untuk memperkuat sektor-sektor dengan nilai tambah tinggi. Pemerintah juga akan mendorong revitalisasi sektor ekonomi yang memiliki ketahanan, meningkatkan kapasitas ekspor dan investasi, serta mempercepat transformasi digital.
Pengembangan teknologi strategis seperti semikonduktor dan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) juga menjadi bagian dari arah kebijakan tersebut.
Pemerintah, lanjut Airlangga, tengah mengembangkan pusat data berbasis AI di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Nongsa. Selain itu, ekosistem industri semikonduktor juga dikembangkan di kawasan koridor Batam-Bintan.
Pengembangan kawasan ekonomi khusus menjadi salah satu instrumen untuk menarik investasi sekaligus menciptakan lapangan kerja. Hingga Juni 2026, sebanyak 25 KEK mencatat akumulasi realisasi investasi sebesar Rp368 triliun atau sekitar 20 miliar dolar AS.
Investasi tersebut telah menyerap lebih dari 283 ribu tenaga kerja. Capaian itu menjadi bagian dari upaya pemerintah memperkuat basis produksi sekaligus meningkatkan daya saing ekonomi nasional.
Selain mengandalkan investasi domestik, pemerintah juga terus membuka akses pasar melalui berbagai kerja sama ekonomi internasional. Sejumlah kerja sama tersebut antara lain Regional Comprehensive Economic Partnership (RCEP), ASEAN, OECD, CPTPP, serta berbagai perjanjian perdagangan bilateral.
Khusus hubungan ekonomi dengan Amerika Serikat, pemerintah juga mendorong implementasi Indonesia-US Agreement on Reciprocal Trade (ART). Kesepakatan tersebut menjadi salah satu instrumen untuk memperluas akses pasar sekaligus mengurangi berbagai hambatan perdagangan antara kedua negara.
Airlangga berharap peluang kerja sama yang tersedia dapat diterjemahkan menjadi investasi nyata dan kemitraan bisnis yang memberikan manfaat bagi kedua negara.
“Kami berharap dapat terus bekerja sama dengan komunitas bisnis Amerika Serikat untuk mengubah berbagai peluang strategis ini menjadi investasi yang konkret dan kemitraan yang lebih kuat guna mendorong pertumbuhan ekonomi bersama,” ujar Airlangga.
