Agung Widyantoro Minta Digitalisasi Perpusnas Jaga Kemampuan Analisis Anak
Soksinews.id - Ketua Komisi X DPR RI Agung Widyantoro menekankan pentingnya menjaga kedalaman berpikir dan analisis kritis masyarakat di tengah pesatnya pergeseran literasi menuju era digital dan kecerdasan buatan (AI).
Saat memimpin Rapat Dengar Pendapat (RDP) Komisi X DPR RI bersama jajaran Eselon I Perpustakaan Nasional (Perpusnas) di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Selasa (1/9/2026), Agung mengingatkan agar proses digitalisasi Perpusnas tidak sekadar memburu tren instan atau pengadaan fisik semata.
Komisi X DPR RI mendorong Perpusnas dan pemerintah daerah untuk memperkuat indikator keberhasilan literasi, mengoptimalkan porsi DAK, memberdayakan pengelola perpustakaan yang kompeten, hingga memberi ruang bagi keahlian langka seperti ahli filologi guna merawat warisan naskah kuno bangsa secara berkelanjutan.
“Kita berjuang tidak hanya mengikuti tren saja, mengadakan, menyediakan pustaka-pustaka bahan bacaan secara digital, tetapi juga sekaligus kita berjuang jangan sampai ketajaman berpikir anak-anak kita menjadi tumpul karena perkembangan digital,” ujar Agung.
DPR menyoroti fenomena peralihan media membaca yang cenderung membuat generasi muda mencari jawaban serba cepat tanpa memahami isi bacaan secara utuh.
“Persoalannya, dari bahan bacaan yang bersifat literasi konvensional ini setelah bergeser ke digital, itu bacaan pokoknya tidak dibaca tetapi langsung tekan tombol ingin mencari apa jawaban dari persoalan yang dihadapi,” katanya.
Pengawasan ketat difokuskan pada ketergantungan anak-anak terhadap teknologi agar proses daya serap dan kemampuan evaluasi masalah tidak terdegradasi.
“Proses baca, kemudian menyerap, dan kemampuan menganalisa sesuatu, persoalan yang ada yang dihadapi itu, ini banyak anak-anak kita bergantung sekali dengan kemajuan digital. Saya khawatir nanti kemampuan analisisnya ini berkurang,” tegas Agung.
Perpusnas dan pemerintah daerah diminta tidak menghentikan program sebatas proyek pengadaan fisik, melainkan menjamin keberlanjutan pemanfaatan perpustakaan sebagai pusat peradaban dan pembelajaran masyarakat.
“Program-program yang sudah terimplementasi di daerah, progres kemajuannya seperti apa? Jangan sampai berhenti sampai, maaf dalam tanda petik, proyek pengadaan, proyek pembangunan fisik. Tapi setelah itu kemajuannya, progresnya seperti apa, kemudian kita tinggalkan,” pungkas Agung.
