Ace Hasan Syadzily Ungkap Indeks Ketahanan Nasional Banten Capai 2,90
Soksinews.id - Gubernur Lembaga Ketahanan Nasional (Lemhannas) Tubagus Ace Hasan Syadzily mengungkapkan Indeks Ketahanan Nasional (IKN) Provinsi Banten berada di angka 2,90. Nilai tersebut menempatkan Banten dalam kategori cukup tangguh dan menjadi salah satu modal untuk mendorong pembangunan daerah menuju visi Banten Emas 2045.
Hal itu disampaikan Ace Hasan dalam Rapat Paripurna Istimewa memperingati HUT ke-26 Provinsi Banten di Gedung DPRD Provinsi Banten, KP3B, Kota Serang, Minggu (4/10/2026).
“Selamat ulang tahun ke-26 untuk Provinsi Banten. Semoga bertambahnya usia ini berbanding lurus dengan meningkatnya kesejahteraan, kedewasaan politik, dan kemandirian ekonomi di Banten,” ujar Ace mengawali sambutannya.
Ace menjelaskan, posisi Banten memiliki arti strategis jika dilihat dari perspektif geostrategi maupun perjalanan sejarah Indonesia. Sejak masa Kesultanan Banten pada abad ke-16, wilayah tersebut telah berkembang sebagai kawasan perdagangan yang memiliki hubungan luas dengan berbagai wilayah.
Posisi Banten saat ini juga semakin penting di tengah perubahan geopolitik global, termasuk persoalan rantai pasok, transisi energi, dan perkembangan teknologi. Secara geografis, Banten menjadi bagian dari kawasan strategis Selat Sunda yang berada di jalur Alur Laut Kepulauan Indonesia (ALKI) I.
Selain menjadi wilayah penyangga ibu kota, Banten juga memiliki kawasan industri yang berperan dalam menopang aktivitas perekonomian nasional.
“Jika Banten stabil dan maju, sebagian besar fondasi ketahanan ekonomi dan politik nasional kita akan semakin kokoh. Masyarakat Banten memiliki karakter dasar yang ulet dan tangguh. Karakter inilah yang menjadi basis ketahanan nasional,” tegasnya.
Menurut Ace, angka 2,90 pada IKN Banten merupakan hasil pengukuran terhadap delapan gatra yang menjadi bagian dari ketahanan nasional. Politik menjadi gatra dengan nilai tertinggi, yakni 3,40, kemudian demografi 3,28 dan ekonomi 2,98.
Sementara itu, gatra pertahanan dan keamanan berada pada angka 2,78, sosial budaya 2,77, geografi 2,68, ideologi 2,64, serta sumber kekayaan alam 2,62.
“Capaian ini menunjukkan fondasi ketahanan Banten relatif terjaga. Namun, dinamikanya masih memerlukan penguatan. Skor ideologi dan ekonomi tercatat meningkat, sumber kekayaan alam stabil, sedangkan geografi, demografi, politik, sosial budaya, serta pertahanan keamanan mengalami sedikit penurunan,” paparnya.
Ace mengatakan hasil pengukuran tersebut perlu menjadi perhatian dalam penyusunan kebijakan pembangunan daerah. Lemhannas merekomendasikan penguatan hubungan antargatra agar berbagai potensi yang dimiliki Banten dapat memberikan dampak lebih besar terhadap ketahanan daerah.
Potensi demografi, misalnya, perlu diarahkan menjadi sumber daya manusia yang berkualitas. Di sisi lain, penguatan ekonomi perlu disertai pemerataan, sementara kondisi geografis dan sumber kekayaan alam harus dikelola dengan memperhatikan keberlanjutan.
“Hasil pengukuran ini harus menjadi early warning system (sistem peringatan dini) serta rujukan dalam penetapan prioritas pembangunan, penganggaran, regulasi, dan pengawasan di DPRD,” imbuh Ace.
Ace juga menyampaikan keyakinannya terhadap agenda pembangunan Banten di bawah kepemimpinan Gubernur Andra Soni dan Wakil Gubernur Ahmad Dimyati Natakusumah. Ia berharap pembangunan daerah dapat membawa Banten menuju kondisi yang lebih maju dan sejahtera.
Sementara itu, Gubernur Banten Andra Soni menyampaikan bahwa peringatan HUT ke-26 Provinsi Banten mengangkat tema “Banten Bergerak, Maju Berdampak”.
Menurut Andra Soni, tema tersebut menjadi dorongan bagi Pemprov Banten untuk merespons persoalan pembangunan secara cepat dan adaptif. Ia menegaskan bahwa keberhasilan pembangunan tidak cukup dilihat dari jumlah program maupun capaian indikator administratif.
“Pembangunan bukan semata-mata tentang seberapa banyak program yang kita laksanakan, melainkan tentang seberapa besar manfaat yang dirasakan dan seberapa nyata perubahan yang dihadirkan bagi masyarakat Banten,” pungkas Andra Soni.
